Pertama Digelar, Temu Penulis dan Penerbit Buku Kebaya Melintasi Masa

Penulis: Soesi Sastro

Setelah dua tahun diluncurkan secara virtual oleh Pustaka Obor Indonesia (21/4/2021), dilanjut bedah buku bersama KBRI Berlin (16/8/2021), baru-baru ini acara Temu Penulis dan Penerbit Buku Kebaya Melintasi Masa (24/6) digelar di Cendela Gallery, Depok, Jawa Barat.

Ketua Yayasan Obor Indonesia Kartini Nurdin dan Direktur PT Pustaka Obor Indonesia Dian Andiani selaku penerbit buku Kebaya Melintasi Masa hadir pada acara tersebut. Sedangkan penulis yang hadir Alma Rahmawati, Anna Suherman, Asthi WD, Ary Sri Lestari, Diyani, Indiah Marsaban, Rosmaida Saragih, Niken Puruhita, Natalie Yulianti, Nita Trismaya, Retno Kustiati, Riana Enitha, Yuni Agus, dan Soesi Sastro yang sekaligus pemangku hajad.

Dalam sambutannya Kartini Nurdin menyampaikan bahwa  buku yang dijahit dan ditulis oleh Soesi Sastro bersama para penulis perempuan lainnya dari berbagai latar belakang ini, menggambarkan betapa kayanya budaya kita akan busana nasional.

Kartini menyambut baik acara Temu Penulis dan Penerbit ini, pertama, untuk saling mengenal karena sejak pandemi covid-19 belum ketemu satu sama lain; kedua, acara ini menjadi ajang diskusi buku, berkreasi untuk penerbitan buku baru, serta menampung ide-ide segar penulis.

Buku Kebaya Melintasi Masa yang tersedia di toko-toko buku dan platform market place ini, menambah khazanah perbukuan di Indonesia khususnya mengenai kebaya dan budaya berkebaya, bahkan saya yakin terbitnya buku ini telah mendorong kajian, penelitian dan pengamatan mengenai budaya kita, khususnya mengenai eksistensi kebaya serta perempuan di Indonesia, demikian Kartini Nurdin menambahkan.

Meskipun berbentuk kumpulan tulisan ringan tentang kebaya dan pengalaman berkebaya lintas masa, namun beberapa tulisan dalam buku dijadikan acuan atau sumber pengamatan maupun penelitian bagi karya tulisan lain.

Seperti Nita Trismaya salah satu penulis yang mengaku mengutip salah satu tulisan dari buku Kebaya Melintasi Masa untuk melengkapi tulisannya tentang kebaya di media-media nasional.

Sangat membanggakan bagi penulis lainnya, Nita adalah salah satu penulis yang berhasil menyelesaikan pendidikan Doktor Antropologi dari Universitas Indonesia (22/7/2022), setahun setelah buku Kebaya Melintasi Masa terbit.

Disertasinya berjudul “Retradisionalisasi Kebaya: Kembalinya Kebaya Dalam Konstruksi Modern, Kasus Komunitas Kebaya di Jakarta”.

Terdapat enam kesimpulan disertasi Nita yang menyoal kebaya, empat diantaranya adalah (1) retradisionalisasi kebaya merupakan gejala sosial kembalinya kebaya sebagai reaksi atas detradisionalisasi kebaya yang terjadi pada awal reformasi bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, (2) Terjadinya perubahan struktur sosial-budaya-politik pasca reformasi telah menyebabkan para perempuan ini menjadi agen-agen yang melakukan gerakan budaya (3) Perempuan-perempuan menjadikan kebaya sebagai bentuk perlawanan terhadap kebaya yang dianggap ‘kampungan’, mengungkung, kuno, tidak praktis, hanya busana formal, pesta dan adat, (4) para perempuan mengatasnamakan nasionalisme dalam aktivitas mereka di ruang publik, namun berdasarkan temuan di lapangan, berkebaya kemudian meluas menjadi media untuk mengekspresikan diri (Nita Trismaya, 2022)

Meskipun tidak ada korelasi langsung tetapi apabila dicermati, kesimpulan disertasi Nita Trismaya dan tulisan-tulisan dalam buku Kebaya Melintasi Masa membuat kita menganggukkan kepala, mengiyakan kebenaran ilmiah dan realitas yang mencuat tentang perkebayaan di Indonesia khususnya di Jakarta dan sekitarnya.

Sangat berguna apabila disertasi tentang kebaya tersebut diterbitkan untuk publik menyusul buku-buku pendahulunya. Tentu akan menambah khazanah perbukuan Indonesia khususnya literasi perkebayaan nasional, sekaligus memperluas pengetahuan budaya kebaya bagi masyarakat.

Keyakinan Kartini Nurdin sebagai penerbit bahwa buku Kebaya Melintasi Masa mendorong pengamatan budaya berkebaya lebih lanjut, diamini juga oleh Indiah Marsaban.

Dalam acara tersebut Indiah menunjukkan photo-photo kegiatan shooting film dokumenter tentang pengamatan budaya berkebaya di Asia Tenggara yang dilakukan media televisi dari Singapore di Museum Tekstil Jakarta.

Buku Kebaya Melintasi Masa digunakan sebagai property utama pengamatan dan beberapa tulisannya dikutip sebagai sumber informasi tentang perkebayaan di Indonesia.

Temu Penulis dan Penerbit yang pertama kali digelar ini menjadi sinyal untuk terus membangkitkan budaya perkebayaan, memotivasi sekaligus memajukan literasi budaya. Ruang kehidupan budaya literasi adalah melalui membaca dan mencipta setelah membaca. Literasi bukan hanya berhenti dalam membaca dan menulis, juga bisa menjadi laku bagi kehidupan. Literasi adalah hal yang sangat positif karena sifatnya abadi, apalagi menulis buku berisi pengalaman pribadi penulisnya yang jujur, menulis apa adanya, sehingga bisa menjadi referensi untuk menyebarkan pengetahuan.

Masukan dari penulis seperti Niken Puruhita dan Yuni Agus, kegiatan yang digelar Cendela Gallery ini kedepan tidak terbatas pada diskusi kebaya, tetapi lebih luas membahas budaya batik, tenun, sarung, budaya slow fashion dan budaya lainnya dengan peserta lebih luas.

Sangat meriah dan berkesan, peserta Temu Penulis dan penerbit mengakhiri acara dengan menari bersama dan membawa pulang kebaya-kebaya pre-loved yang cantik. Kebaya adalah sumber pengetahuan budaya yang tidak ada ujungnya, selalu menarik di setiap titik jamannya. Salam budaya.

Depok, 24 Juni 2023

Bagaimana menurut Anda artikel ini?
+1
0
+1
0
+1
5
+1
7
CERITA KEBAYA