UNTUK APA KEBAYA DICATAT DI UNESCO?

Penulis Indiah Marsaban, Pengajar LBI-FIB-UI, Penggiat Budaya

  1. Polemik pencatatan Kebaya ke UNESCO bersama negara-negara ASEAN dengan strategi joint nomination atau dengan strategi Single  Nation Nomination masih terus bergulir di kalangan komunitas. Terdapat sementara pihak yang menyatakan bahwa 80% perempuan Indonesia berkebaya setiap hari dan 99% perempuan Bali berkebaya. Dan ini menjadi dalih bahwa kebaya “milik Indonesia”.  Benarkah demikian?  Adakah riset/kajian yang sudah dilakukan sehingga dapat mengambil angka tersebut sebagai kesimpulan? Dari mana data ini? Apakah ini berdasarkan  data primer yang diperoleh dari studi lapangan?
  • Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting karena jika pun akan menominasikan kebaya ke UNESCO, Indonesia harus siap dengan kajian yang komprehensif  untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Andai pun sejarah kebaya di Indonesia lebih “panjang” dibandingkan sejarah kebaya di negara-negara sahabat di Asia Tenggara, maka catatan sejarah itu hanya titik awal referensi dan bukan sesuatu yang mutlak untuk UNESCO, karena yang penting perlu bukti bahwa elemen budaya yang akan dinominasikan sudah “hidup” minimal selama satu generasi di suatu wilayah atau di suatu negara dan dirawat dan dijaga (safeguarding) untuk dilestarikan.
  • Indonesia kan negara besar di ASEAN, jangan mau jadi follower” itu kata sebagian pihak yang bersikukuh ingin mencatatkan kebaya dengan opsi Single Nation Nomination, dan ingin maju sendiri tanpa negara-negara ASEAN lainnya. “Negara-negara ASEAN yang lain kan tidak ikut G20, jadi kita harusnya jadi leader”, demikian lanjut pihak-pihak yang menolak Joint Nomination.
  • Mengenai negara-negara G20, tidak ada hubungan antara kebaya dengan G20. Tidak semua negara-negara ASEAN masuk G20 karena negara-negara tersebut tidak masuk dalam kategori ”countries with emerging economies” Memang Indonesia boleh unggul dari aspek tersebut. Namun itu bukan alasan untuk menjadi jumawa dan merendahkan negara lain. Presiden Joko Widodo dalam Joint Statement ketika menerima PM Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakub Desember 2021, mengatakan bahwa “Sebagai negara tetangga yang dekat dengan akar rumpun yang sama, kita harus memperkuat kerja sama kita berdasarkan prinsip-prinsip hubungan yang saling menghormati dan menguntungkan. Indonesia sebagai “big brother “di ASEAN mengayomi negara-negara anggota ASEAN lainnya apalagi saat ini Indonesia menerima tongkat  Chairmanship ASEAN tahun 2023.  Falsafah dari logo Keketuaan ASEAN Indonesia selama 2023 menggambarkan  konsep merangkul, mengayomi dan membawa arah ASEAN kepada pertumbuhan (Menteri LN, Retno Marsudi, 2022).
  • Sementara itu dalam kesempatan yang sama Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob juga menyampaikan pernyataan: “Sebagai negara sahabat yang berasal dari akar rumpun yang sama, Malaysia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam adat istiadat, tradisi, dan warisan budaya. Pada tahun 2020, kedua negara telah mengajukan “pantun” (puisi berima empat baris) sebagai nominasi bersama ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Bapak Presiden Joko Widodo dan saya sama-sama sepakat bahwa kita harus memahami warisan budaya mana yang dapat diajukan sebagai nominasi bersama, sehingga tidak akan ada masalah yang berkaitan dengan budaya yang dapat memengaruhi hubungan kita yang sudah baik.”
  • Banyak sekali yang masih awam dengan isu pencatatan di UNESCO ini. Kalau yang dinarasikan adalah mengusung kebaya demi NKRI dan nasionalisme serta glorifikasi Indonesia, sayang sekali ini tidak relevan. UNESCO tidak ada urusannya dengan nasionalisme suatu negara karena nasionalisme urusan internal di negara yang bersangkutan. Memilih strategi joint nomination sama sekali tidak mengurangi nasionalisme. “Ada atau tidak ada UNESCO tidak penting bagi saya, yang lebih utama adalah apakah kita sudah memiliki strategi dan program untuk merawat tradisi kebaya secara bekelanjutan? Mau dibawa ke mana kebaya? Visi ke depan bagaimana? Bukan sekedar selebrasi saja tetapi harus ada edukasi masyarakat kata D. Kumoratih, ahli antropologi. “Apakah kita sudah siapkan Road Map untuk melestarikan tradisi kebaya” tanya Eva Sundari dari Institut  Sarinah.
  • Kita perlu mengajak masyarakat umum untuk ikut berpikir kritis dan memiliki pemahaman yang akurat mengenai makna pencatatan suatu elemen budaya di UNESCO.  Berulang kali harus dijelaskan bahwa pencatatan di UNESCO bukan isu hak kepemilikan (copy right) dan bukan mengenai asal-usul dan juga bukan “hak paten” tetapi nilai-nilai universal kemanusiaan dari suatu elemen budaya yang menjadi kontribusi bagi kekayaan kebudayaan dan perdamaian dunia. Kalau untuk mendaftarkan hak paten itu bukan ke UNESCO tetapi ke World Intellecttual Property Organization (WIPO). Di sinilah perlu mengedukasi masyarakat. Ini isunya adalah strategi. Bukan semata-mata isu leadership. Bahkan di dalam menginskripsikan suatu elemen budaya secara joint nomination ke UNESCO tidak dikenal istilah leader atau follower karena setiap negara anggota adalah setara. Prinsip ini sudah saya konfirmasi dengan Prof Ismunandar (Wakil Delegasi Tetap RI di UNESCO di Paris). Dalam hal ini isu leader atau follower tidak relevan dan “out of context
  • Untuk mengajukan nominasi ke UNESCO perlu riset. Riset membutuhkan biaya. Tidak ada riset tanpa biaya. Dan riset itu mahal. Padahal justru di aspek itulah Indonesia kedodoran dan ketinggalan. Menjadi LEADER??? Waahh…ya jauh. Sila cek berapa biaya yang dianggarkan negara-negara  sahabat seperti Singapura dan Malaysia untuk pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi? Bangsa yang besar tahu betul merawat budayanya. Kita sudah melakukan apa? Untuk merawat budaya kita, salah satunya harus melalui riset dan pendokumentasian.  Jangan harap jadi leader memimpin ibu-ibu ASEAN untuk kebaya kalau kita sendiri belum punya data/riset tentang kebaya di Indonesia secara komprehensif. Perlu grand strategy.  Posisikan dulu Indonesia ada di pergaulan dunia. Berjuang itu juga harus kerja cerdas dengan strategi, tidak cukup hanya dengan tekad dan semangat. Pakai otak juga. Pakai riset juga.
Bagaimana menurut Anda artikel ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
4
PERSPEKTIF